Arsip untuk Januari, 2012

voila…. aku datang lagi..kali ini ga mau crita tentang peweka ato planologi ato d’urbanisme klo bahasa perancisnya tp mau cerita tentang diri sendiri..hhahahhahaha ga penting sakjane. tp ndak apa2 yah dr pada gak nilis blog. mari kita mualai:
saat ini saya tercatat sebagai mahasiswi (lagi) S2 salah satu universitas terkemuka di antero Indonesia khususnya jawa Tengah..yupp di MPWK UNDIP Semarang. Memang awalnya saya mau kuliah di ITB sih…pas udah tes dan ketrima tp bebarengan saya keterima di UNDIP…tentunya saya milih UNDIP abis geratis sihh. Memang status saya saat ini mahasisiswa beasiswa unggulan DIKNAS (isr nih) hehehehehehe.Kuliah ku ini program dooble deegre ke perancis n program kulnya 13 bln, karenan saya ikut program DD saya kulu kursus bahasa peracis. Coba bayangin kuliah yang harusnya 4 semester (2tahun) dijadikan 4 triwulan alhasil kegiatan saya super padet det det dengan tiap mata kuliah diberikan 2 minggu (kayak sekolah SMA). tiap hari ke kampus jam 6.30 dan pulang jan 18.00 tiap hari kecuali minggu (itupun klon ga kelompokan). Sekarang ini saya udah di Triwulan 2 dan mulai ngerjain Thesis. klo di pikir2 kegiatan saya cukup ndak sopan, dan sering kali bikin teman kelompok tugas saya geram gara2 saya susah diajak kerja bareng, so far itu akan selalu saya bayar dgn ngerjain tugas di tenmgah malam (waktu sisanya), dan ini kegiatan saya
1. senin-kamis
6.30-8an = les
8.00-10an= kuliah
10.30-12.30= les
13.00-15.00=kuliah
16.00-18.00=les lagi
2.jum’at-sabtu
6.30-17.30= les terus
jadwal dan kesibukan ini emang membosankan dan menyebalkan… tp ini demi demi demi demi MT Msc. smoga smua bisa terbayar nantinya…hehehehhehe
Oh ya klo kuliah PeWeka paling gitu2 aja, tp skr saya punya banyak temen yag super2 hehehehehe dan 5 guru perancis yang super juga.

udahan deh ceritanya smoga saya bisa berhasil yaa…doakan saya hihihihihiih

Iklan

Urban sprawl adalah suatu proses perluasan kegiatan perkotaan ke wilayah pinggiran. Urban sprawl juga dikenal dengan perubahan karakteristik pedesaan menjadi perkotaan. Perkembangan yang sangat pesat pada dekade ini berdampak pada perkembangan kawasan perkotaan. Penyebab terjadinya urban sprawl adalah peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan ruang, kemampuan transportasi, pembangunan perumahan karena kebutuhan akan permukiman (Ingersoll,2006)

Kemunculan permukiman baru di kawasan pinggiran kota disebabkan keterbatasan lahan untuk pemukiman serta tingginya permintaan dan persaingan penggunaan lahan di pusat kota (Soeroto, 1997). Akibatnya di kawasan pinggiran mulai berkembang kawasan-kawasan perumahan yang tersebar, tidak teratur dan tidak terintegrasi. Ketikdakteraturan kawasan permukiman memunculkan ruang-ruang kosong antar kawasan perumahan satu dengan yang lainnya. Kantung-kantung tersebut menyebabkan tidak efisiennya pengadaan infrastruktur karena mahalnya biaya pengadaan tidak sebanding dengan jumlah penggunanya

Infrastruktur adalah sistem fisik yang menyediakan transportasi, air, bangunan, dan fasilitas publik lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia secara ekonomi dan sosial (Grigg dalam Kondoatie, 2003). Sedangkan infrastruktur permukinan adalah infrastruktur yang terdiri dari infrastruktur fisik dan layanan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia serta meningkatkan kualitas hidup seperti air bersih dan perumahan (Bappenas, 2002). Insfrastruktur memegang peran penting dalam mendukung kegiatan masyarakat untuk memenuhi kegiatan sehari-hari. Selain itu insfrastruktur juga berperan penting dalam mendukung daya saing ekonomi, terutama dalam penyediaan jaringan distribusi, sumber energi, maupun komponen insfrastruktur lainnya.

Salah satu kawasan urban sprawl adalah Kelurahan Meteseh yang terletak di Kota Semarang selatan tepatnya di Kecamatan tembalang. Munculnya pusat-pusat kegiatan baru di Kelurahan Meteseh yang memberikan dampak positif dan dampak negatif seperti pelayanan infrastruktur kota. Infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kegiatan sehari-hari masyarakat Kelurahan meteseh. Munculnya permasalahan terkait dengan pelayanan infrastruktur yang akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini akan diteliti distribusi infrastruktur pada kawasan urban sprawl di Kelurahan Meteseh. Penelitian ini akan menggunakan analisis kualitatif berdasarkan teori, kebijakan, dan hasil wawancara dengan stakeholder terkait. Selain analisis kualitatif, penelitian ini juga akan menggunakan analisis kuantitatif untuk mengetahui capaian distribusi infrastruktur pada kawasan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi infrastruktur dan menemukan konsep pengembangan distribusi insfrastruktur yang sesuai dengan karakteristik kawasan urban sprawl Kota Semarang khususnya di Kelurahan Meteseh. Sehingga dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di masa depan.
Kata kunci : urban sprawl, distribusi infrastruktur, permukiman, perkotaan

ini sedikit tentang tesis saya…pengen dikembangin tp terbentur banyak aturan…smoga penelitian saya menarik buat saya dan semua…
😀

dan semoga calon thesis ini diterima sama calon kampusku di benua seberang nanti…hehehehehe
doakan saya yaaa smua

voila… kali ngepos tentang apa yang telah saya pelajari di kelas wilayah.
tulisan saya ini disumbang dari pemikiran teman saya juga Pak Mazdo dan Bu Nunung…
maklum temen ane skr ibu2 n bapak. Baeklah.. sekarang kita bicara tentang algomerasi.

Aglomerasi di dalam ekonomi geografi, aglomerasi berhubungan dengan pusat-pusat pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi. Keuntungan aglomerasi muncul jika kegiatan yang terkait satu sama lain terdapat di satu konsentrasi wilayah yang sama. Keterkaitan tersebut dapat berupa bahan baku dan pasar. Jika keuntungan itu besar maka otomatis para pengusaha akan memilih lokasi kegiatan ekonomi terkonsentrasi dengan kegiatan lainnya. Pemilihan lokasi akan cenderung tersebar bila keuntungan aglomerasi tersebut nilainya kecil
Keuntungan aglomerasi dapat muncul dalam 3 bentuk:
1. Keuntungan skala besar yang terjadi karena bahan baku ataupun pasar telah tersedia di 1 lokasi tersebut.
2. Keuntungan lokalisasi yang diperoleh dalam bentuk biaya transportasi
3. Penggunaan fasilitas secara bersama (komunal)
Indonesia bukan negara industri seperti dinegara maju, untuk itu aglomerasi bukan merupakan patokan pasti untuk pertumbuhan ekonomi. Kenyataannya aglomerasi di indonesia terjadi tidak merata. Perkembangan industri pesat di pulau Jawa dan Sumatera. Jabotabek misalnya bisa disebut daerah aglomerasi industri terbesar di Indonesia selain itu juga ada Kota Surabaya dan Bandung meskipun tidak sebesar Jabodetabek. Aglomerasi ekonomi bertumpu pada sektor industri berbasis pengolahan, bukan berbasis sumber daya alam dan menuntut infrastruktur lengkap. Pada negara maju, mungkin teori ini bisa menterjemahkan fenomena yang ada. Namun pada negara berkembang, di mana ketimpangan infrastrukturnya tinggi, teori ini belum sepenuhnya bisa menjawab fenomena di lapangan. Secara sederhana, kita ambil contoh, bagaimana mungkin kita membandingkan aglomerasi ekonomi di wilayah seputar Jabotabek yang penuh kawasan industri dan infrastruktur lengkap dengan wilayah di kota Wamena Papua yang miskin infrastruktur. Atau bila kita bandingkan dengan aglomerasi ekonomi di sekitar Surabaya saja, sudah tidak berimbang. Jumlah serta kepadatan penduduk juga menjadi penentu penting aglomerasi ekonomi dimana produsen-konsumen berkumpul secara spasial sehingga melahirkan efesiensi transportasi, informasi dan sebagainya.
Aglomerasi ekonomi juga secara tak langsung mensyaratkan kepadatan modal karena memang tulang pungguungnya adalah industri pengolahan. Untuk daerah yang tertinggal dan tidak dilirik secara spasial oleh industri pengolahan, maka semakin lama semakin tertinggal. Konsep aglomerasi ekonomi pada akhirnya malah akan makin memperuncing disparitas wilayah secara perekonomian. Kecuali indikator-indikator ekonomi nya sendiri diubah secara radikal, seperti menyertakan daya dukung lingkungan, pencemaran dan sebagainya. Sehingga pada saat penerapan aglomerasi ekonomi di sebuah wilayah , indikator-indikator tersebut disertakan dan daerah yang memiliki nilai terbaik pada salah satu indikator tersebut dapat menerima kompensasi dari wilayah yang jelek nilai indikatornya (bisa diprediksi adalah kota-kota besar/metropolitan). Ujung-ujungnya akan terjadi akumulasi modal pada wilayah terbelakang tersebut dan bisa menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi selanjutnya.

ini sih berdasarkan pemikirab kami setelah membaca artikelnya Philip McCann and Frank van Oort