Archive for the ‘-PLANOLOGI-’ Category

Urban sprawl adalah suatu proses perluasan kegiatan perkotaan ke wilayah pinggiran. Urban sprawl juga dikenal dengan perubahan karakteristik pedesaan menjadi perkotaan. Perkembangan yang sangat pesat pada dekade ini berdampak pada perkembangan kawasan perkotaan. Penyebab terjadinya urban sprawl adalah peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan ruang, kemampuan transportasi, pembangunan perumahan karena kebutuhan akan permukiman (Ingersoll,2006)

Kemunculan permukiman baru di kawasan pinggiran kota disebabkan keterbatasan lahan untuk pemukiman serta tingginya permintaan dan persaingan penggunaan lahan di pusat kota (Soeroto, 1997). Akibatnya di kawasan pinggiran mulai berkembang kawasan-kawasan perumahan yang tersebar, tidak teratur dan tidak terintegrasi. Ketikdakteraturan kawasan permukiman memunculkan ruang-ruang kosong antar kawasan perumahan satu dengan yang lainnya. Kantung-kantung tersebut menyebabkan tidak efisiennya pengadaan infrastruktur karena mahalnya biaya pengadaan tidak sebanding dengan jumlah penggunanya

Infrastruktur adalah sistem fisik yang menyediakan transportasi, air, bangunan, dan fasilitas publik lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia secara ekonomi dan sosial (Grigg dalam Kondoatie, 2003). Sedangkan infrastruktur permukinan adalah infrastruktur yang terdiri dari infrastruktur fisik dan layanan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia serta meningkatkan kualitas hidup seperti air bersih dan perumahan (Bappenas, 2002). Insfrastruktur memegang peran penting dalam mendukung kegiatan masyarakat untuk memenuhi kegiatan sehari-hari. Selain itu insfrastruktur juga berperan penting dalam mendukung daya saing ekonomi, terutama dalam penyediaan jaringan distribusi, sumber energi, maupun komponen insfrastruktur lainnya.

Salah satu kawasan urban sprawl adalah Kelurahan Meteseh yang terletak di Kota Semarang selatan tepatnya di Kecamatan tembalang. Munculnya pusat-pusat kegiatan baru di Kelurahan Meteseh yang memberikan dampak positif dan dampak negatif seperti pelayanan infrastruktur kota. Infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kegiatan sehari-hari masyarakat Kelurahan meteseh. Munculnya permasalahan terkait dengan pelayanan infrastruktur yang akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini akan diteliti distribusi infrastruktur pada kawasan urban sprawl di Kelurahan Meteseh. Penelitian ini akan menggunakan analisis kualitatif berdasarkan teori, kebijakan, dan hasil wawancara dengan stakeholder terkait. Selain analisis kualitatif, penelitian ini juga akan menggunakan analisis kuantitatif untuk mengetahui capaian distribusi infrastruktur pada kawasan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi infrastruktur dan menemukan konsep pengembangan distribusi insfrastruktur yang sesuai dengan karakteristik kawasan urban sprawl Kota Semarang khususnya di Kelurahan Meteseh. Sehingga dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di masa depan.
Kata kunci : urban sprawl, distribusi infrastruktur, permukiman, perkotaan

ini sedikit tentang tesis saya…pengen dikembangin tp terbentur banyak aturan…smoga penelitian saya menarik buat saya dan semua…
😀

dan semoga calon thesis ini diterima sama calon kampusku di benua seberang nanti…hehehehehe
doakan saya yaaa smua

Iklan

voila… kali ngepos tentang apa yang telah saya pelajari di kelas wilayah.
tulisan saya ini disumbang dari pemikiran teman saya juga Pak Mazdo dan Bu Nunung…
maklum temen ane skr ibu2 n bapak. Baeklah.. sekarang kita bicara tentang algomerasi.

Aglomerasi di dalam ekonomi geografi, aglomerasi berhubungan dengan pusat-pusat pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi. Keuntungan aglomerasi muncul jika kegiatan yang terkait satu sama lain terdapat di satu konsentrasi wilayah yang sama. Keterkaitan tersebut dapat berupa bahan baku dan pasar. Jika keuntungan itu besar maka otomatis para pengusaha akan memilih lokasi kegiatan ekonomi terkonsentrasi dengan kegiatan lainnya. Pemilihan lokasi akan cenderung tersebar bila keuntungan aglomerasi tersebut nilainya kecil
Keuntungan aglomerasi dapat muncul dalam 3 bentuk:
1. Keuntungan skala besar yang terjadi karena bahan baku ataupun pasar telah tersedia di 1 lokasi tersebut.
2. Keuntungan lokalisasi yang diperoleh dalam bentuk biaya transportasi
3. Penggunaan fasilitas secara bersama (komunal)
Indonesia bukan negara industri seperti dinegara maju, untuk itu aglomerasi bukan merupakan patokan pasti untuk pertumbuhan ekonomi. Kenyataannya aglomerasi di indonesia terjadi tidak merata. Perkembangan industri pesat di pulau Jawa dan Sumatera. Jabotabek misalnya bisa disebut daerah aglomerasi industri terbesar di Indonesia selain itu juga ada Kota Surabaya dan Bandung meskipun tidak sebesar Jabodetabek. Aglomerasi ekonomi bertumpu pada sektor industri berbasis pengolahan, bukan berbasis sumber daya alam dan menuntut infrastruktur lengkap. Pada negara maju, mungkin teori ini bisa menterjemahkan fenomena yang ada. Namun pada negara berkembang, di mana ketimpangan infrastrukturnya tinggi, teori ini belum sepenuhnya bisa menjawab fenomena di lapangan. Secara sederhana, kita ambil contoh, bagaimana mungkin kita membandingkan aglomerasi ekonomi di wilayah seputar Jabotabek yang penuh kawasan industri dan infrastruktur lengkap dengan wilayah di kota Wamena Papua yang miskin infrastruktur. Atau bila kita bandingkan dengan aglomerasi ekonomi di sekitar Surabaya saja, sudah tidak berimbang. Jumlah serta kepadatan penduduk juga menjadi penentu penting aglomerasi ekonomi dimana produsen-konsumen berkumpul secara spasial sehingga melahirkan efesiensi transportasi, informasi dan sebagainya.
Aglomerasi ekonomi juga secara tak langsung mensyaratkan kepadatan modal karena memang tulang pungguungnya adalah industri pengolahan. Untuk daerah yang tertinggal dan tidak dilirik secara spasial oleh industri pengolahan, maka semakin lama semakin tertinggal. Konsep aglomerasi ekonomi pada akhirnya malah akan makin memperuncing disparitas wilayah secara perekonomian. Kecuali indikator-indikator ekonomi nya sendiri diubah secara radikal, seperti menyertakan daya dukung lingkungan, pencemaran dan sebagainya. Sehingga pada saat penerapan aglomerasi ekonomi di sebuah wilayah , indikator-indikator tersebut disertakan dan daerah yang memiliki nilai terbaik pada salah satu indikator tersebut dapat menerima kompensasi dari wilayah yang jelek nilai indikatornya (bisa diprediksi adalah kota-kota besar/metropolitan). Ujung-ujungnya akan terjadi akumulasi modal pada wilayah terbelakang tersebut dan bisa menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi selanjutnya.

ini sih berdasarkan pemikirab kami setelah membaca artikelnya Philip McCann and Frank van Oort

Saat ini perkembangan tekhnologi yang sangat berkembang sangat mendukung dalam berbagai macam ilmu termasuk ilmu planologi. Salah satunya adalah perencanaan guna lahan dengan sistem informasi geografi. Secara teori tata guna lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu, misalnya fungsi pemukiman, perdagangan, industri, dll. Rencana tata guna lahan merupakan kerangka kerja yang menetapkan keputusan-keputusan terkait tentang lokasi, kapasitas dan jadwal pembuatan jalan, saluran air bersih dan air limbah, gedung sekolah, pusat kesehatan, taman dan pusat-pusat pelayanan serta fasilitas umum lainnya. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem yang men-capture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spatial (keruangan) mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan.
Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainnya yang membuatnya menjadi berguna untuk berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi.

Penggunaan lahan suatu wilayah sifatnya tidak permanen atau dapat berubah sesuai kebutuhan manusia. Hal ini disebabkan lahan memiliki kemampuan yang dimanfaatkan sesuai dengan tujuan manusia. Oleh karena itu saat ini banyak penyalahgunaan penggunaan lahan karena alasan ekonomi karena penggunaan lahan dapat berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan kebudayaan manusia. Perubahan guna lahan pada suatu wuilayah dapat terjadi dengan berubahnya penggunaan lahan tersebut dari suatu penggunaan tertentu ke penggunaan lainnya. Perubahan guna lahan akan memunculkan suatu fungsi lahan akan dikorbankan untuk fungsi lain sebagai contoh adalah fungsi lahan sebagai daerah resapan (non terbangun) berubah menjadi lahan terbangun baik menjadi area permukiman ataupun komersial. Bentuk penggunaan lahan terjadi dalam dua bentuk yaitu perubahan dengan perluasan atas suatu penggunaan tertentu dan perubahan tanpa perluasan untuk penggunaan tertentu.

Di samping hal tersebut perubahan penggunaan lahan dapat terjadi pula dengan adanya intensifikasi atas suatu penggunaan tertentu pada lahan yang sama (Meyer, 1994). Perluasan penggunaan lahan untuk tujuan tertentu sering terjadi di daerah pinggiran atau pedesaan dimana lahan masih “tersedia” dalam jumlah yang luas. Sedangkan perubahan tanpa perluasan wilayah sering disebut dengan pemadatan, dan terjadi pada wilayah perkotaan atau daerah-daerah tertentu dengan adanya factor-faktor pembatas. Pemadatan terjadi atas suatu penggunaan tertentu. Berikut ini adalah contoh perubahan guna lahan :

Informasi penggunaan lahan dapat memberikan penjelasan pada pengguna tentang apa yang harus dilakukan terhadap lahan tersebut untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Mather, 1986). Perencanaan pemanfaatan lahan didasarkan atas perencanaan tata guna lahan. Perencanaan tata guna lahan didefinisikan sebagai sebuah proses pengorganisasian, pengembangan dan penggunaan lahan serta sumberdayanya dengan suatu cara yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam waktu yang panjang dengan menjaga fleksibilitas untuk kombinasi yang dinamis dari keluaran sumberdaya untuk masa depan (Sitorus, 1989). Proses perencanaan pada dasarnya adalah proses identifikasi alternatif-alternatif dan analisis pengaruhnya dalam hubungannya dengan daya dukung sumberdaya untuk menopang atau menerima kegiatan-kegiatan manusia. Kegiatan-kegiatan manusia pada umumnya cenderung mengganggu atau mengubah ekosistem di tempat mereka melakukan kegiatan atau bermukim. Penggunaan atau pemanfaatan lahan yang tidak hati-hati akan berbahaya bagi keseimbangan lingkungan dan memungkinkan munculnya berbagai bencana alam maupun sosial. Saat ini banyak sekali bencana yang disebabkan oleh penggunaan lahan yang menyalahi aturan, seperti terjadinya banjir di Jakarta karena minimnya area resapan yang telah berubah menjadi area terbangun.
Salah satu keunggulan dalam sistem informasi geografis adalah kemampuannya menghubungkan beberapa peta dengan sebuah pernyataan aljabar secara bersama-sama untuk membentuk algoritma yang lebih komplek. Beberapa peta dan tabel data atribut dapat dikombinasikan ke dalam sebuah proses tunggal. Proses kombinasi beberapa peta secara bersama-sama sering disebut dengan pemodelan peta atau pemodelan kartografis (Bonham-carter, 1996). Proses ini biasa disebut overlay, dari proses inilah dapat diketahui perubahan suatu guna lahan.

Monitoring Perubahan Lahan dengan SIG di Semarang

Monitoring Perubahan Lahan dengan SIG

Monitoring Suatu Fase Pertumbuhan di Perkebunan

Daftar pustaka:
http://www.geounesa.net/
Pusat Data Pengindraan Jauh Lapan

Bersambung : Sistem Informasi Geografi Untuk Perencanaan Guna Lahan Part II


Waste is the consequence from all human activities. If the capacity of community in treating the wastes management does not develop,it can pose environmental problems. The problem about waste management also happened in Kediri. The increase every year it, causes many problems happens in landfills. Waste treatment efforts has been done by local government since 2008. They had build three composting units with community participation. In fact, the community didn’t involved in the waste managements because they assume this waste managements is the local government’s responbility. This research aims to identify the operational performance of waste management by evaluating oprasional and non-operasional performance of composting units, community participation level analysis and multidimensional scaling analysis (MDS). The result multidimensional scaling analysis, recommended two kind of waste treatment, composting and recycling the paper. The result of this research is the recommendation about community based waste management system in Kediri, accordance with the recommendations of waste treatment processing, composting and recycling the paper.

INFO PKN

Posted: Januari 14, 2010 in -URBAN & REGIONAL PLANNING-

Teman batas persentasi PKN tanggal 14 januari…jdi segera daftar ke billi n kalo tanya2 bisa ke vira ato billi…..berikut info2 PKN :
1.bagi yg udah persentasi segera kumpulin PPT presentasi n File laporan dalam CD
2.Lembar penilaian segera di kum pulkan bersama CD PPT n file
3. laporan dijilid rangkap 3 untuk perpus, instansi, dan dosen pembimbing
4.LLKP dijilid tp nama mahasiswa n identitas mahasiswa tidak ikut dijilit..hanya diselipkan di LLKP
5.SMUA SEGERA Download kuisioner yg ada di link
http://fadlypwk.blogspot.com/2009/08/ranah-minang.html
kuisioner ini ditujukan untuk konsultan dan instansi, diisi , dan dibubuhi stampel steakholder terkait dan dikumpulkan bersama dgn laporan (tanggal menyusun)

SEGERA,….POLLLLL
nb: ksh tau temennya yg ga punya FB yah…. ntar info lain menyusul di jarkom